6 bulan….
Hanya 6 bulan saja
6 bulan waktu yang luar biasa
6 bulan yang merubah hidupku
6 bulan yang menghancurkan
mimpiku
Alhamdulillah, semoga ini baik
Semoga Allah menggantinya di lain
waktu disaat yang lebih tepat.
Yach…saat itu, aku memutuskan
untuk melanjutkan studi, kembali ke bangku kuliah yang memang menjadi
mimpiku. Saat itu memang sedikit ragu,
antara Jogja atau Solo. Tapi, dengan berbagai pertimbangan akhirnya ambillah di
Jogja. Magister Sains Psikologi Sekolah Universitas Ahmad Dahlan.
6 bulan itu benar-benar ga ada
celah galau, waktu berjalan begitu cepat. Antara tugas mengajar di sekolah
senin-kamis, lalu kamis siang langsung otw Jogja hingga minggu. Lalu masih
harus memikirkan mengolah nilai UTS anak-anak
kurikulum 2013, seleksi CPNS, pasca ujian CPNS sudah lanjut UTS kuliah, tugas-tugas
presentasi, tugas-tugas makalah, UTS selesai anak-anak ujian semester, mengolah
nilai kurikulum 2013, lalu pemberkasan CPNS, setelah itu UAS kuliah.
6 bulan yang sungguh
menyenangkan. Sama sekali ga merasakan kuliah yang memeras otak, kuliah yang
dibahas adalah kejadian-kejadian yang ada dalam kehidupan kita sehari-hari,
hanya stres ketika tugas numpuk saja. Sangat mudah dan menyenangkan. Banyak
pelajaran berharga untuk kita mengarungi kehidupan ini dengan lebih bijak,
psikologi kepribadian membentuk kita
menjadi pribadi yang baik. Pelajaran untuk jadi ibu yang baik untuk anak-anak
kelak dengan psikologi perkembangan membahas perkembangan dari segala aspek
dari pra kelahiran hingga meninggal. Psikologi Sosial, menjadikan kita lebih
peka terhadap kehidupan masyarakat di sekitar kita. Adapula psikologi
pendidikan yang sangat bermanfaat dalam bidang pendidikan, membantuku menemukan
solusi masalah-masalah dalam mengajar. Psikologi abnormal, mempelajari tentang
manusia yang berbeda dengan manusia kebanyakan, bagaimana penanganannya.
Adapula psikologi industri dan organisasi yang mempelajari tentang kita dan
dunia kerja. Sungguh menyenangkan semua itu. Apalagi ditambah dengan suasana kampus yang berbasis Islam, segalanya kembali berdasarkan ajaran Islam yang indah.
6 bulan yang mengubah hidup,
apakah yang berubah? Ya, hari itu 2 minggu sebelum ujian CPNS dosen psikologi
kepribadian ‘Mr. S’ membahas materi “test kepribadian”. Bla…bla…bla…setelah
penjelasannya panjang lebar akhirnya aku bertanya bagaimana dengan test
kepribadian dalam CPNS? Jawaban beliau ini yang benar-benar kujadikan panduan
dalam mengerjakan soal CPNS dan mentarget nilai CPNS harus 160. Alhamdulillah
sesuai target 161. Dan lolos.
6 bulan belajar psikologi justru
membuatku membutuhkan bantuan psikolog. (Nah lho, kalian pasti mengira aku
stres berat). Ohhh tidak, ternyata psikolog itu tidak seperti yang masyarakat
katakan “dokternya orang stres”. Psikolog itu bisa membantu kita meningkatkan perfomance
diri, membantu kita menemukan bakat kita. Pokoknya dunia psikologi ini luar
biasa menurutku.
6 bulan menemukan sahabat yang
luar biasa. Ntahlah, kenapa kalo ngobrol sama tante satu itu rasanya nyambung.
Apapun itu sepakat pokoknya. Dia yang pandai ngomong, pandai mendebat,
ide-idenya luar biasa, bertolak belakang denganku, tapi ntah kenapa kita
nyambung jika bicara. Seharian duduk di kelas belum selesai itu ngobrol banyak
hal, sampai-sampai 3 lampu merah di Jogja selalu menjadi saksi persahabatan
kita (hehehe…ngobrol di tengah jalan saat lampu merah menyala). Dan lampu merah
ke empat adalah lampu merah perpisahan. Dan kesimpulan kami “Hati-hati kalau punya teman yang kuliah
psikologi, siap-siap segala aktivitas kita jadi objek penelitiannya”.
Yaaa…inilah kuliah yang mengubah hidupku, aku yang cenderung cuek dengan
lingkungan sekitar, mulai merubah mulai mencoba lebih peka, karena mau tidak
mau dalam psikologi yang menjadi objek penelitiannya adalah manusia. Selama ada
manusia ilmu psikologi akan selalu dibutuhkan.
Itulah sekelumit kisah 6 bulan
menjadi mahasiswa psikologi, hanya 6 bulan saja. Karena, kemudian aku memutuskan
mengambil cuti, walaupun cuti tapi ga tahu apa mungkin dilanjut atau tidak.
Izin belajar yang kuajukan di BKD ditolak, lalu jarak tempuh Boyolali bagian
utara-Jogja juga sangat tidak memungkinkan untuk kujangkau. Andaikan jarak
tempuhnya dekat mungkin akan tetap kulanjutkan, karena aku suka dengan ilmunya.
Sudahlah…inilah kenangan. Akan menjadi sebuah cerita untuk anak cucu kelak.
Andaikan BKD memberi izin, aku juga tak cukup siap untuk mendapat predikat “mahasiswa
S2 terlama”. InsyaAllah ini baik…semoga Allah memberikan kesempatan lagi.