Suatu hari bapak di BKD
itu bilang “Selamat…kalian semua orang2 cerdas!Hanya orang2 cerdas yang bisa
keterima disini”. Cerdas? Rasanya aku tak secerdas yang mereka kira, aku hanya
anak biasa saja, nilai sekolahku bukan yang terbaik di sekolah, IPK kuliah juga
standar rata2 mahasiswa, jauh jika dikatakan aku cerdas. Hmm..
Lalu kenapa bisa aku
keterima CPNS sedangkan banyak yang lebih cerdas daripada aku, IPK cumlaude,
berprestasi dalam berbagai hal. Aku merasakan ini semua karena barokahnya doa
ibu. Bagaimana tidak, aku sendiri merasakan aku tidak secerdas yang mereka
kira?
Aku menyadari dengan
sepenuh hati bahwa aku lolos CPNS karena berkah doa ibu. Apakah saat dulu
mendaftar Jogja, Magelang, Purworejo tidak ada doa ibu? Ada, tapi saat itu
hubungan kami cukup buruk, aku mendaftar keluar kota lebih karena rasa keegoisanku
untuk segera pergi dari rumah dan punya penghasilan sendiri tanpa perlu bantuan
orang tua lagi. Dan sekarang, aku sudah mulai nyaman hidup di rumah, aku telah
memperbaiki hubunganku dengan orang tua. Walaupun kadang masih suka marah2 ya
anggap wajar saja.
Ketika pilihan
mendaftar CPNS, aku dan bapak memang sempat bentrok. Semua terjadi secara
mendadak, ketika kemudian aku memutuskan untuk mendaftar di Boyolali jauh dari
kesepakatan awal bahwa aku akan mendaftar di Kulon Progo. Tapi, dengan
komunikasi akhirnya bapak mengikhlaskan.
Sempat terjadi bentrok
membuat aku berjuang keras agar lolos CPNS tahun ini, tidur hingga larut malam,
lebih tepatnya tertidur di depan laptop yang masih menyala, ngafalin berbagai
materi CPNS yang kemungkinan keluar. Berusaha dan berdoa sekuat tenaga.
Kenapa sampai terjadi
bentrok, karena aku menolak dengan tegas untuk melakukan suap CPNS! Terus
ketika aku dan orang tua sepakat untuk mendaftar Kulon Progo, tiba2 aku
melenceng jauh ke Boyolali (kota yang ntah dimana, ga pernah ada dalam
khayalanku untuk tinggal disini).
Bayangkan saja, tarif
CPNS untuk lulusan SMA 50jt, D2/D3 75jt, S1 125jt! Ahhhh….uang darimana itu?
Uang dari ortu lah, kan ortu yang nawarin kalau mau! Tapi, selain secara agama
rejeki dari hasil suap itu tidak berkah, hal lainnya yang membuat aku malas
untuk menerima tawaran itu adalah karena profesi yang akan aku lalui adalah
GURU, seorang pendidik. Lha klo lolos CPNS karena suap, bukankah aku akan
menjadi guru yang paling bodoh? Selain itu, walaupun orang tua mengatakan bahwa
uang untuk suap itu tak perlu dikembalikan, perasaanku tetap saja tak enak,
orang tiap hari saja orang tua selalu mengatakan “kamu itu orang yang paling
banyak menghabiskan uang di keluarga ini!”, bayangkan saja walaupun sejatinya
orang tua ingin mengatakan “hiduplah hemat, jangan boros!”. Tapi ternyata yang
keluar adalah kata2 bahwa aku penghabis uang terbanyak di keluarga ini. Terus,
ntar kalo dah lolos CPNS kalau aku melakukan hal yang ‘aneh’ yang mengeluarkan
banyak uang pasti dimarahin lagi “kuliah sudah menghabiskan jutaan, kerja juga
menghabiskan ratusan juta” ahhhhh……rasanya tak cukup kuat mentalku mendengar
kata2 itu.
Selain berusaha keras
belajar, berdoa tak lupa kulakukan, mau tahu ga doanya gimana? Jujur banget “Ya
Allah tunjukkan bukti kekuasaanMu bahwa aku bisa lolos CPNS tanpa uang!”.
Kenapa aku berdoa seperti ini? Di keluarga besar kami rata2 semua yang masuk
jadi PNS adalah dengan uang! Tak ada yang tidak pake uang. Jadi semuanya sudah
tersugesti bahwa CPNS=Uang, Tak Ada Uang=Tak Akan Jadi PNS!
Seminggu sebelum test,
aku ke Jogja (aku persiapan test di Jogja, aku memilih Jogja dikarenakan
jaringan internet yang lebih baik daripada Purworejo, lebih mudah mencari
materi CPNS). Sebelum berangkat ke Jogja, aku minta maaf ke orang tua, mohon
doanya agar dimudahkan segala urusan. Tak lupa meminta kepada ibu untuk
membantuku doa pas waktu aku ujian, aku minta beliau dzikir sebisanya untukku.
Ya…hari itu 16 Oktober
2014, aku berangkat ke Solo sendiri, sebelum berangkat kurimkan sms kepada
orang tua untuk meminta restu mereka, sms kakung dan uti yang lagi di Mekkah
mohon doanya. Aku berangkat sendiri, ketika sampai disana melihat peserta test
banyak yang dianter keluarganya aku cuma gigit jari, tak apalah mereka dianter
keluarga, aku juga datang dengan dianter “doa orang tua”.
1 jam dari jadwal test, kami sudah masuk
ruangan, sebelum masuk kukirimkan sms ke orang tua. Lagi…lagi…minta doa. Waktu
mengerjakan ibuku benar2 berdzikir untukku, hingga aku kemudian menjerit dalam
hati “Soal apaan ini, kenapa ga ada yang keluar yang kuhafalin!” Tapi,
alhamdulillah soalnya mudah, walaupun tak satupun keluar soal yang kupelajari,
soal2nya cukup bisa dinalar. Ketika tiba2 laptop yang kupakaipun nge-hang
kemudian perlu dibetulkan beberapa orang semua bisa diselesaikan dengan baik.
Hanya saja, ketika semua peserta test sudah selesai mengerjakan, sedangkan aku
masih mempunyai kisaran waktu 20menit gara2 laptop yang sempat nge-hang itu,
aku sudah sangat panik sekali, apalagi soal yang tersisa adalah soal2 yang
cukup sulit (Nah, disini dikaitkan dengan doa ibu, ternyata ibu telah
mengakhiri dzikirnya untukku karena dikiranya aku sudah selesai mengerjakan karena
sudah lebih dari 2jam). Sungguh menit2 terakhir inilah aku merasakan sulit
mengerjakan. Sudah panik, soal yang tersisa adalah soal sulit dan yang pasti
tanpa doa ibu! Ditambah lagi aku adalah peserta test terakhir yang belum juga
keluar, panitia yang tidak tahu bahwa laptopku sempat nge-hang tadi penasaran
kenapa aku tak kunjung keluar, akhirnya semua panitia berkumpul di dekat
mejaku. Ampunnnn…ini bikin tambah panik setengah mati.
Alhamdulillah selesai,
pas mau lihat hasilnya, panik banget, ini panitia ngapain si pada kumpul
disini, kan malu kalo nilainya jelek. Sempat hingga beberapa waktu aku tak juga
mengklik nilainya. “ayo mbak buruan diklik itu skornya” kata seorang panitia.
Ampun dech pak…kenapa bapak2 pada disini, aku kan malu kalo nilaiku jelek. Mau
tak mau akhirnya kuklik juga, taraaaaaaaaaaa…… 386 (105 untuk TWK, 120 untuk TIU,
161 untuk TKP). Alhamdulillah, ini sungguh luar biasa. Dan ketika jurnal keluar
Alhamdulillah peringkat 1. Inilah untuk pertama kali aku menjadi yang pertama
(bahagia banget rasanya).
Dan lihatlah, bahwa
semua itu karena barokah doa ibu, lihatlah betapa aku mendapatkan soal2 yang
mudah, lihatlah ketika ibu berhenti berdoa lalu aku mengalami kesulitan mengerjakan
soal. Ya…semua kesuksesan ini karena doa ibu, karena doa bapak, karena doa
kakak, karena doa kakung dan uti di Mekkah dan semuanya yang tak bisa
disebutkan satu per satu.
![]() |
| (Copas dari Google) |


