Jumat, 27 Februari 2015

Barokah Doa Ibu



Suatu hari bapak di BKD itu bilang “Selamat…kalian semua orang2 cerdas!Hanya orang2 cerdas yang bisa keterima disini”. Cerdas? Rasanya aku tak secerdas yang mereka kira, aku hanya anak biasa saja, nilai sekolahku bukan yang terbaik di sekolah, IPK kuliah juga standar rata2 mahasiswa, jauh jika dikatakan aku cerdas. Hmm..

Lalu kenapa bisa aku keterima CPNS sedangkan banyak yang lebih cerdas daripada aku, IPK cumlaude, berprestasi dalam berbagai hal. Aku merasakan ini semua karena barokahnya doa ibu. Bagaimana tidak, aku sendiri merasakan aku tidak secerdas yang mereka kira?

Aku menyadari dengan sepenuh hati bahwa aku lolos CPNS karena berkah doa ibu. Apakah saat dulu mendaftar Jogja, Magelang, Purworejo tidak ada doa ibu? Ada, tapi saat itu hubungan kami cukup buruk, aku mendaftar keluar kota lebih karena rasa keegoisanku untuk segera pergi dari rumah dan punya penghasilan sendiri tanpa perlu bantuan orang tua lagi. Dan sekarang, aku sudah mulai nyaman hidup di rumah, aku telah memperbaiki hubunganku dengan orang tua. Walaupun kadang masih suka marah2 ya anggap wajar saja.

Ketika pilihan mendaftar CPNS, aku dan bapak memang sempat bentrok. Semua terjadi secara mendadak, ketika kemudian aku memutuskan untuk mendaftar di Boyolali jauh dari kesepakatan awal bahwa aku akan mendaftar di Kulon Progo. Tapi, dengan komunikasi akhirnya bapak mengikhlaskan.

Sempat terjadi bentrok membuat aku berjuang keras agar lolos CPNS tahun ini, tidur hingga larut malam, lebih tepatnya tertidur di depan laptop yang masih menyala, ngafalin berbagai materi CPNS yang kemungkinan keluar. Berusaha dan berdoa sekuat tenaga.

Kenapa sampai terjadi bentrok, karena aku menolak dengan tegas untuk melakukan suap CPNS! Terus ketika aku dan orang tua sepakat untuk mendaftar Kulon Progo, tiba2 aku melenceng jauh ke Boyolali (kota yang ntah dimana, ga pernah ada dalam khayalanku untuk tinggal disini).

Bayangkan saja, tarif CPNS untuk lulusan SMA 50jt, D2/D3 75jt, S1 125jt! Ahhhh….uang darimana itu? Uang dari ortu lah, kan ortu yang nawarin kalau mau! Tapi, selain secara agama rejeki dari hasil suap itu tidak berkah, hal lainnya yang membuat aku malas untuk menerima tawaran itu adalah karena profesi yang akan aku lalui adalah GURU, seorang pendidik. Lha klo lolos CPNS karena suap, bukankah aku akan menjadi guru yang paling bodoh? Selain itu, walaupun orang tua mengatakan bahwa uang untuk suap itu tak perlu dikembalikan, perasaanku tetap saja tak enak, orang tiap hari saja orang tua selalu mengatakan “kamu itu orang yang paling banyak menghabiskan uang di keluarga ini!”, bayangkan saja walaupun sejatinya orang tua ingin mengatakan “hiduplah hemat, jangan boros!”. Tapi ternyata yang keluar adalah kata2 bahwa aku penghabis uang terbanyak di keluarga ini. Terus, ntar kalo dah lolos CPNS kalau aku melakukan hal yang ‘aneh’ yang mengeluarkan banyak uang pasti dimarahin lagi “kuliah sudah menghabiskan jutaan, kerja juga menghabiskan ratusan juta” ahhhhh……rasanya tak cukup kuat mentalku mendengar kata2 itu.

Selain berusaha keras belajar, berdoa tak lupa kulakukan, mau tahu ga doanya gimana? Jujur banget “Ya Allah tunjukkan bukti kekuasaanMu bahwa aku bisa lolos CPNS tanpa uang!”. Kenapa aku berdoa seperti ini? Di keluarga besar kami rata2 semua yang masuk jadi PNS adalah dengan uang! Tak ada yang tidak pake uang. Jadi semuanya sudah tersugesti bahwa CPNS=Uang, Tak Ada Uang=Tak Akan Jadi PNS!

Seminggu sebelum test, aku ke Jogja (aku persiapan test di Jogja, aku memilih Jogja dikarenakan jaringan internet yang lebih baik daripada Purworejo, lebih mudah mencari materi CPNS). Sebelum berangkat ke Jogja, aku minta maaf ke orang tua, mohon doanya agar dimudahkan segala urusan. Tak lupa meminta kepada ibu untuk membantuku doa pas waktu aku ujian, aku minta beliau dzikir sebisanya untukku.

Ya…hari itu 16 Oktober 2014, aku berangkat ke Solo sendiri, sebelum berangkat kurimkan sms kepada orang tua untuk meminta restu mereka, sms kakung dan uti yang lagi di Mekkah mohon doanya. Aku berangkat sendiri, ketika sampai disana melihat peserta test banyak yang dianter keluarganya aku cuma gigit jari, tak apalah mereka dianter keluarga, aku juga datang dengan dianter “doa orang tua”.
 1 jam dari jadwal test, kami sudah masuk ruangan, sebelum masuk kukirimkan sms ke orang tua. Lagi…lagi…minta doa. Waktu mengerjakan ibuku benar2 berdzikir untukku, hingga aku kemudian menjerit dalam hati “Soal apaan ini, kenapa ga ada yang keluar yang kuhafalin!” Tapi, alhamdulillah soalnya mudah, walaupun tak satupun keluar soal yang kupelajari, soal2nya cukup bisa dinalar. Ketika tiba2 laptop yang kupakaipun nge-hang kemudian perlu dibetulkan beberapa orang semua bisa diselesaikan dengan baik. Hanya saja, ketika semua peserta test sudah selesai mengerjakan, sedangkan aku masih mempunyai kisaran waktu 20menit gara2 laptop yang sempat nge-hang itu, aku sudah sangat panik sekali, apalagi soal yang tersisa adalah soal2 yang cukup sulit (Nah, disini dikaitkan dengan doa ibu, ternyata ibu telah mengakhiri dzikirnya untukku karena dikiranya aku sudah selesai mengerjakan karena sudah lebih dari 2jam). Sungguh menit2 terakhir inilah aku merasakan sulit mengerjakan. Sudah panik, soal yang tersisa adalah soal sulit dan yang pasti tanpa doa ibu! Ditambah lagi aku adalah peserta test terakhir yang belum juga keluar, panitia yang tidak tahu bahwa laptopku sempat nge-hang tadi penasaran kenapa aku tak kunjung keluar, akhirnya semua panitia berkumpul di dekat mejaku. Ampunnnn…ini bikin tambah panik setengah mati.

Alhamdulillah selesai, pas mau lihat hasilnya, panik banget, ini panitia ngapain si pada kumpul disini, kan malu kalo nilainya jelek. Sempat hingga beberapa waktu aku tak juga mengklik nilainya. “ayo mbak buruan diklik itu skornya” kata seorang panitia. Ampun dech pak…kenapa bapak2 pada disini, aku kan malu kalo nilaiku jelek. Mau tak mau akhirnya kuklik juga, taraaaaaaaaaaa…… 386 (105 untuk TWK, 120 untuk TIU, 161 untuk TKP). Alhamdulillah, ini sungguh luar biasa. Dan ketika jurnal keluar Alhamdulillah peringkat 1. Inilah untuk pertama kali aku menjadi yang pertama (bahagia banget rasanya).

Dan lihatlah, bahwa semua itu karena barokah doa ibu, lihatlah betapa aku mendapatkan soal2 yang mudah, lihatlah ketika ibu berhenti berdoa lalu aku mengalami kesulitan mengerjakan soal. Ya…semua kesuksesan ini karena doa ibu, karena doa bapak, karena doa kakak, karena doa kakung dan uti di Mekkah dan semuanya yang tak bisa disebutkan satu per satu.

(Copas dari Google)

Kata Mereka

Kata mereka ‘kasihan’ keterima PNS jauh di Boyolali
Kata mereka ‘kasihan’ jauh dari orang tua
Kata mereka ‘kasihan’ bakalan pisah dari orang tua
Kata mereka ‘kasihan’ ga ada saudara disana
Dan masih banyak lagi kata ‘kasihan’ yang terucap dari mulut mereka

Boyolali memang jauh dari Purworejo
Boyolali memang jarang menjadi kota tujuan merantau disini
Jauh dari orang tua
Berpisah dari orang tua
Ga ada saudara
Apalagi kalau ditambah tahu daerah penempatanku
Tengah hutan

Tapi benarkah aku perlu dikasihani?
Nyaris 1200 orang menginginkan posisi ini
Jutaan orang ingin jadi PNS
Boyolali itu masih di Jawa
Boyolali itu masih di Jawa Tengah
Bahkan banyak orang rela keluar Jawa demi PNS
Konon katanya di luar Jawa sana lebih mudah jadi PNS
So, aku ini orang yang beruntung atau sial? Masihkah aku perlu dikasihani?

Percakapan dengan bapak di suatu hari “Bapak tahukah engkau teman2ku pada keterima PNS di Jakarta? Mereka bakalan jadi warga ibukota, gajinya besar, sementara aku? Aku akan hidup di tengah hutan.”

Kalian tahu bapakku menjawab apa? Bapak bilang “Ahhh…ga masalah. Aku lebih rela kamu di tengah hutan daripada di Jakarta. Lihat aja tu Jakarta macet, banjir dll.”

Semoga ridhonya orang tua menjadi ridhoNya Allah. Aamiin…

Tapi, suatu hari ketika aku ngomong sendiri “Ahhh…besok aku bakal hidup di tengah hutan, sepi, kalau maghrib harus sudah di rumah, jaringan internet ga ada, kata mas Naryo itu besok Gadget ga bisa kepakai lagi disana.”

Dan si bapak jawab dengan santainya “siapa suruh daftar Boyolali, kan kemarin dah disuruh daftar Kulon Progo aja!”

Hahaha….lagi2 si bapak bilang masalah itu. Memang ga ada yang nyuruh daftar di Boyolali. Tapi Allah memantapkan hatiku. Demi terwujudnya mimpimu bapakku.

Dan ketika kubaca status ini “MENIKMATI apa yg Kita mau itu biasa tapi MENIKMATI Apa Yang ALLOH Mau itu LUAR BIASA”, berusaha menikmati menjadi warga Boyolali, menikmati yang Allah mau. Yogya, Magelang, Purworejo aku sudah coba ikut test disana, tapi ternyata Allah menetapkan aku harus tinggal di Boyolali. Kota yang jauh dari khayalanku.

Dan inilah pemandangan yang akan kita lihat jika kita datang dari arah Solo. Merapi Merbabu seolah mengatakan "Selamat Datang". Maka Nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan?

Boyolali dari arah Solo (Foto Copas)

Rabu, 25 Februari 2015

SAY NO TO LDR


Hari ini menyempatkan silaturahim ditempat seorang kawan tua. Pemiliknya konon adalah orang yang cukup disegani di masyarakat sekitar dan katanya pula tak ada yang pernah berani main-main kesana sesering aku maen kesana. Tapi bagiku biasa aja. Hihihi

Ketika datang kesini tu selalu disambut dengan gembira, layaknya anaknya yang tak pulang lama. Pekerjaan dihentikan, terus duduk mengobrol menemani. Hihihi…bahagia. Bahagia itu ternyata sederhana.

Lalu, ceritapun dimulai, biasalah si kakung mulai cerita2 dulu. Cerita berlanjut tentang kisah lamaran anak ragilnya, dibikin cerpen menarik mungkin dengan judul “tukang ojek menjadi saksi”. Lucu banget dech si kakung ceritanya. 

Lalu, lanjut ngasih wejangan aku, duchhh…rasanya tu gimana gitu dikasih wejangan, wejangan ‘pra nikah’, lebih tepatnya tentang ‘memilih jodoh’. Ga nyangka bakal dikasih wejangan ini. Padahal pas malem minggu aku juga barusan MABIT dan dapet wejangan juga tentang ‘jodoh’. Pas malem minggu itu kita sharing tentang kehidupan berumah tangga, visi misi pernikahan, tujuan pernikahan, banyak banget. Tapi yang perlu diingat malam itu sebuah nasehat “JANGAN LDR-an”. LDR pasca nikah maksudnya.
 
Walaupun tanpa dikasih nasehat ini, aku sebagai seorang guru, guru SD yang melihat anak2 yang tinggal sama neneknya, yang tinggal hanya dengan 1 orang tua merasakan miris, sedih. Yang tinggal sama kedua orang tuanya saja kurang dapat perhatian. Ada yang bilang “anakku tinggal sama neneknya juga berprestasi!”. Tapi, dia tentu akan jauh lebih berprestasi dengan bimbingan kedua orang tuanya. Terus anak2 yang terlantar, yang kedua orang tuanya hanya sibuk mencari uang, mereka dikucuri uang, semua permintaannya dipenuhi, tapi pendidikannya diserahkan sama gurunya. Mereka tak pernah mau berpartisipasi dalam pendidikan anak-anaknya. Yang mereka tahu dan mau anaknya menjadi baik. Jika baik mereka bilang kami orang tuanya, jika buruk gurunya dianggap gagal mendidik. Miris sekali…

“Anak yatim bukanlah anak yang ditinggal mati oleh kedua orang tua hingga ia menjadi miskin. Akan tetapi, anak yatim yang sebenarnya ialah seorang anak yang menemukan ibunya yang kurang mendidiknya dan menemukan ayah yang sibuk dengan pekerjaannya.” (baca kitab Tarbiyatu al-Aulaad Fii al-Islaam halaman 103-104)

Bukankah salah satu tujuan pernikahan adalah sebagai investasi akhirat? Anak adalah investasi akhirat, bukan semata-mata kesenangan dunia. Dengan memiliki anak yang shalih dan shalihah, akan memberikan kesempatan kepada kedua orang tua untuk mendapatkan surga di akhirat kelak. Dan anak yang shalih shalihah diperoleh melalui pendidikan yang panjang.

Rasulullah Saw bersabda, “Di hari kiamat nanti orang-orang disuruh masuk ke dalam surga, namun mereka berkata: wahai Tuhan kami, kami akan masuk setelah ayah dan ibu kami masuk lebih dahulu. Kemudian ayah dan ibu mereka datang. Maka Allah berfirman: Kenapa mereka masih belum masuk ke dalam surga, masuklah kamu semua ke dalam surga. Mereka menjawab: wahai Tuhan kami, bagaimana nasib ayah dan ibu kami? Kemudian Allah menjawab: masuklah kamu dan orang tuamu ke dalam surga” (HR. Imam Ahmad dalam musnadnya).



Nah kalo LDR-an lalu bagaimana nasib anak? Apalagi anak dititipkan kepada nenek-kakeknya. Apakah visi misi pernikahan yang ingin mereka capai sebenarnya?

Kembali ke wejangan dari kakung, inilah wejangan dari kakung tentang memilih jodoh untukku:
  1. Agama, seiman. Ini hukum wajib yang pertama. 
  2. Jangan ‘jarak jauh’, sekarang kerja sudah jelas di Boyolali, jangan mencari jodoh di lain kota. Usahakan! Tapi, kalo sudah diupayakan dan ternyata memang harus LDR-an ya gimana lagi. Terkait hal ini, pernikahan beliau di awal mulanya ternyata mengalami LDR-an Purworejo-Cilacap. Dan menurut beliau ini sangat tidak baik bagi sebuah pernikahan. Dipandang dari segi apapun, apalagi ketika sudah memiliki anak.
  3. Rupa, cinta sejati itu tidak memandang rupa. Rupa itu nomer kesekian nantinya. 
  4. Walaupun sekarang kamu sudah bekerja, mempunyai penghasilan, jangan sampai kamu ‘digantungi’, kamu harus gantung. Setampan apapun laki2 itu jika tidak bekerja, tidak ada tanggung jawabnya sama sekali katakan tidak! Yang bertugas mencari nafkah itu suami!  
  5. Siapapun pilihannya, libatkan Allah, Istikharah!
    Nah, aku jadi ingat si Mr. petrus “Masih single, daftar CPNS dimana saja tak masalah. Jodoh itu nanti akan mengikuti dimana kamu bekerja.” Mungkin kata2 Mr.Petrus ini juga yang membuat aku nekat daftar Boyolali. Xixixi 
    Kesimpulannya dari nasehat si kakung serta visi misi pernikahan yang ingin kucapai berarti, mengusahakan jodohku adalah orang yang bekerja di Boyolali, ntah itu warga asli ataupun perantauan. Karena, perjanjian bermateraiku dengan PEMDA Boyolali itu 8tahun.
  6. Hal ini mengingatkanku akan sebuah doa anak2 untuk orang tuanya:

    اَللّهُمَّ اغْفِرْلِيْ وَلِوَالِدَيَّ وَارْحَمْهُمَاكَمَارَبَّيَانِيْ صَغِيْرَا.
    “Alloohummaghfirlii waliwaalidayya war hamhumaa kama rabbayaanii shagiiraa”.
    Artinya :
     “Wahai Tuhanku, ampunilah aku dan Ibu Bapakku, sayangilah mereka seperti mereka menyayangiku diwaktu aku kecil”.

    Kalimat ‘sayangilah mereka seperti mereka menyayangiku diwaktu aku kecil’, kalo kemudian Allah benar2 mengabulkan doa ini, padahal orang tuanya memperlakukan mereka menjadi layaknya ‘anak yatim’.Kira2 apa balasan untuk orang tuanya?

    Selain dikasih wejangan, kakung juga bercerita gimana rasanya ngurus orang tua yang sudah jompo, sakit2an. Hmmm…ini tiket surga gratis kung, jangan sia2kan! Aku tadi bilang begini “ tahu ga si kung, menurutku kakung bisa sukses seperti sekarang itu berkah merawat orang tua. Kalo kakung sama uti ga merawat itu orang tua mungkin ga akan sesukses sekarang!”.
    Berhubung waktu sudah sore, akhirnya mohon pamit. Terimakasih wejangannya. Dan semakin mantap “SAY NO TO LDR".

Senin, 23 Februari 2015

Bukan Karena 'Pacar'

Inspirasi nulis ini karena banyak orang yang mengira, “daftar CPNS disana pacarnya orang sana ya?”. Pacar? Duch…aku tu bukan penganut paham ‘pacaran pra nikah’. Boro2 pacar, lha aku aja ga punya kenalan siapa2 disana pas daftar. Bener2 tempat baru yang asing. Tahu orang2 disana juga baru itungan jari, 

  1. Bapak berkumis tebal yg ngasih undangan hari pertama aku datang kesana. Sampai hari ini belom tahu namanya. 
  2. Pak Ismadi, yg sms ngasih kabar. Dan kutunggu selalu sms nya nyaris 2 bulan ini. Xixixi
  3. Pak Kepala BKD, hafal orangnya, lupa namanya. OMG… 
  4. Pak Sarwanto yg membuat hatiku hancur berkeping2. 
  5. Mbak Annisa, temen yang lolos CPNS juga 
  6. Mbak Asmi, temen yang lolos CPNS juga 
  7. Desi Kusumadewi, ini teman SMA yang kutahu ternyata dia tinggal di Boyolali setelah pengumuman CPNS. 
  8. Mas Muhammad Fadholi, suaminya Desi.
Nah, benar kan baru itungan jari tangan, masih sisa 2, siapakah orang kesembilan dan kesepuluh yang akan kukenal???

Sungguh, aku ga kenal orang sama sekali disana. Terus kok nekat daftar disana? Ahhh…jika ditanya itupun aku juga bingung harus jawab apa. Semua tanpa rencana. Jauh dari rencana awal.
Jauh dari rencana? Memang rencana awal dimana? Rencana awal tu daftar Kulon Progo (kebetulan tu penempatan masih bisa dilaju dari rumah). Tapi, ntah kenapa hari2 terakhir pendaftaran tiba2 aku ga terlalu ingin daftar disana, rasanya mustahil keterima disana. Melencenglah jauh, BOYOLALI sebagai pilihan.

Kenapa pilihan jatuh ke Boyolali? Lagi2 aku tak tahu juga harus memberi alasan apa yang membuat aku memilih kota ini. Sungguh, seumur hidupku aku belum pernah datang ke kota ini. Tak tahu gimana caranya pula sampai kota ini. Ga tahu harus naik transportasi apa untuk kesana. Ga tahu daerahnya gimana. Parahnya lagi ga ada saudara atau kenalan disana saat itu. Bahkan ketika pembekalan pemberkasan kemudian seorang teman bilang “kamu nekat banget ya mbak daftar disini, kamu sudah tahu belum si daerah penempatan kita? Daerah penempatan kita tu di pelosok sekali. Daerahnya hutan jati, tanah labil, jalannya rusak.” Ahhhh…aku tak tahu. Pas, aku cerita sama bapak “Pak, tahu ga si kata temenku penempatannya di tengah hutan?”. Bapak jawab dengan santainya “Di tengah hutan kalo ada sekolahan, pasti ada manusianya, ga mungkin isinya monyet”.

Benarkah keputusan ini nekat, tanpa pertimbangan? Rasanya tidak juga, aku sempat Shalat Istikharah sebelum mengambil keputusan ini. Dan saat itu hatiku mengatakan bahwa rejekiku bukan di Kulon Progo, akhirnya aku pilih Boyolali. Kenapa Boyolali? Aku juga tak tahu ini, aku bingung jawabnya. Jawaban paling bisa kujawab, aku memilih Boyolali karena aku disini ga punya kenalan siapapun, aku menghindari praktik suap dalam penerimaan CPNS. Aku tak mau, rejekiku dari hasil suap. Memangnya di Kulon Progo pakai suap? Kagak si, tapi ada saudara disana, takut aja ntar aku keterima CPNS dengan suap. Nah, klo di Boyolali kan ga ada kenalan, ga ada saudara, rasanya lebih aman dari praktek suap.

Menyesal ga daftar CPNS di kota itu? Ehmmm…sempat menyesal ternyata Boyolali test CPNS pertama se Jateng, belum siap menghadapi test saat itu. Sempat menyesal juga sebelum test CPNS dikasih tahu jumlah pendaftar hampir 1200 peserta, semakin kecil persentase lolos. Menyesal ketika melihat hasil CPNS, dengan nilai segitu aku keterima di seluruh kabupaten di Yogyakarta. Astaughfirullah…ga ada bersyukurnya.

Insya Allah sekarang sudah ga menyesal lagi, sudah bisa menerima sepenuh hati inilah jalan hidupku. Kalau daftar di Yogyakarta belum tentu juga dapat nilai segitu. Dan mungkin memang aku harus keluar dari zona nyaman, terlalu nyaman hidup di rumah, ga ada tantangan sama sekali. Dan yang terpenting aku akan bisa mengaplikasikan ilmu psikologi sosial yang kupelajari (rahasia ini, belum akan kupublikasikan sekarang).

Sampai hari ini sudah berapa kali datang ke Boyolali? Sampai hari ini baru jumlah jari 1 tangan saja. Hihihi…
Kapan saja itu?

Yang pertama, tanggal 19 Desember 2014. Hari itu, aku mengambil surat undangan pembekalan pemberkasan CPNS di BKD Boyolali. Untuk pertama kalinya aku menginjakkan kakiku di kota ini. Waktu itu sudah pukul 8.30, hari terakhir pengambilan surat undangan pembekalan pemberkasan. Tiba-tiba Hpku berbunyi, ada telfon, tahu ga dari siapa? Dari pegawai BKD, tanya kenapa belum ambil surat undangan? Apakah belum mendapat sms dari BKD? Hihihi…sabar ya pak, saya lagi di jalan ini, sudah mau sampai kok. Terus dikasih tahu rutenya sama bapaknya yang telfon itu. Aku Cuma bilang iya…iya…iya..hihihi lha mau bilang gimana lagi? Orang ga tahu juga, terus ditanya sama mas sopirnya gimana rutenya? Lurus aja, ntar ketemu patung Soekarno tanya aja itu daerah sana, kagak mudeng aku. Terus, sudah nyampai patung Soekarno, tanya ke orang, masuk ke komplek perkantoran Pemda Boyolali, pesan bapaknya itu “Nanti, parkir di masjid saja, terus masuk lewat pintu belakang”. Ahhh…kita si parkir di masjid, tapi aku jalan muter ga maulah lewat pintu belakang, kesannya gimana gitu. Tapi, sekarang kalau kesana justru lebih suka lewat pintu belakang, lebih dekat. Hihihi
Sampai di BKD, minta maaf datang sudah terakhir, cerita kalau baru pertama kali datang ke Boyolali, mengira kalau kemarin waktu dapat sms itu sms penipuan (OMG, ternyata pak Ismadi yang sms ada di belakang bapaknya, udah bilang ngira sms penipuan lagi). Bapaknya bilang “hebat, luar biasa baru pertama kali datang kesini dengan kabar bahagia, selamat ya mbak”.
Sudah, Cuma nerima surat undangan aja, terus pulang.

Yang kedua, 22 Desember 2014 pembekalan pemberkasan CPNS. Ga ada cerita unik hari ini, hanya mendengarkan sambutan dari pak Kepala BKD dan pembekalan pemberkasan dari Pak Sarwanto.

Yang ketiga, 29 Desember 2014 pemberkasan CPNS. Hari ini juga ga terlalu unik, hanya mengumpulkan berkas terus boleh pulang.

Yang keempat, 05 Januari 2015 hari ini aku janjian ma temen SMAku si Desi, setelah kemarin 3X dianter terus, sekarang mencoba belajar mandiri, naek bis. Dijemput Desi di Tugu Kartasura, terus diajakin makan siang ketemu sama suaminya. Pinginnya si naek angkutan kota, tapi ternyata ga tahu jalur angkutan kota. Tapi, ngobrol kesana kemari sama Mas Fadholi jadi sedikit punya gambaran tentang Boyolali. Makasih buat semuanya…Allah yang akan membalas kebaikan kalian. Sungguh aku ga mau lagi naek bis untuk transportasi pulang. Lebih baik pramex aja.

Yang kelima, 09 Februari 2015 sudah kurencanakan untuk survey lokasi, sudah minta izin Mas Fadholi kalo ngajakin istrinya untuk survey bagaimana? Boleh ga? Ternyata boleh, okelah. Aku berangkat dengan kereta dari Jogja, terus lagi2 dijemput sama Desi (yaiyalah, sama siapa lagi? Kan udah kubilang tadi, kagak punya pacar.), setelah keliling2 kota, makan pagi menjelang siang, survey menuju Wonosegoro. Lupa aku jalannya, kalau disuruh kesana lagi ntahlah…Yang kuingat, pokoknya dari jalan Solo-Boyolali itu nanti ada plang penunjuk jalan ke arah Simo, sudah ikuti jalan itu aja, jalannya cuma satu. Lewat Sambi-Simo-Karanggede-Wonosegoro, sampai sana benar2 merasakan di tengah hutan. Tengah hutan jati, sejauh mata memandang. Berbeda dengan disini (di desa kelahiranku) sejauh mata memandang hamparan sawah yang terbentang luas.  Di Wonosegoro hawanya masih sejuk, lanjut lagi ke Juwangi, nanggung udah nyampe sini kok ga sekalian sampai utara, setelah melewati rel kereta api, kenapa aku merasakan suhu udara yang meningkat. Panas sekali di Juwangi itu, rasanya tanah pun mengeluarkan hawa panas, seperti musim kemarau di Purworejo, tapi kalau di Purworejo musim kemarau itu angin bertiup kencang, sedang disini rasanya sungguh luar biasa. Tak lama aku disini, waktu sudah menunjukkan hampir pukul 14.00, harus balik Jogja lagi, karena tadi pagi perginya pamit pulang. Kalo tadi mengandalkan GPS, baliknya HP mati kehabisan baterai, akhirnya tanya2 ke orang dan akupun semakin bingung jalannya karena tidak sama dengan jalan tadi berangkat. Tapi, kata Desi jalannya lebih mudah baliknya. Dari Juwangi tadi sempat kulirik speedometer. Nah, ternyata perjalanan dari Juwangi-Wonosegoro-Boyolali-Stasiun Purwosari ±90Km. Bayangkan? Purworejo-Jogja saja hanya sekitar 60Km.

Tapi, tak perlu menyesal, walaupun jauh aku melihat Boyolali lebih baik daripada Purworejo. Yang jelas di kota ini lebih diakui daripada di Purworejo. Bukan begitu?

Demikian, catatan tentang perjalanan hingga sampai ke Boyolali, bukan karena ada pacar disana, karena Allah menetapkan rejekiku disana. Bagaimana dengan orang tua? Ikhlaskah mereka aku disana? Waktu mendaftar disana sedikit tidak ikhlas, tapi InsyaAllah sekarang sudah ikhlas. Alhamdulillah…Boyolali Tersenyum.

Sabtu, 07 Februari 2015

Cerita CPNS




Inilah cerita pengalaman CPNSku. Sebuah pengalaman yang mungkin bisa dijadikan pelajaran untuk teman-teman agar  lolos CPNS.

Jauh, sejak ikut test CPNS D2 aku sudah ditawari untuk masuk CPNS pake uang. Ya, begitulah, dikeluarga besarku ada uang=CPNS. Tanpa uang ga mungkin jadi CPNS. Ahhh…masak si kayak gitu, kayaknya ga dech, banyak temen-temenku yang lolos murni karena test. Terus aku juga berpikir kalo CPNS dengan ijazah D2, dengan golongan 2C kapan baliknya tuch uang yang buat bayar? Klo pake ijazah S1 terus sertifikasi, mungkin bisa balik modal cepet, lha klo pake D2 kan lama tu balik nya. Ahhh…mendingan kagak dech. Dirayu2pun aku tolak. (Nolaknya karena diitung2 lama balik modalnya…hahahaha). Tapi saat itu aku juga masih berpikir bahwa CPNS itu adalah sebuah keberuntungan, walaupun tanpa belajar, kalo sudah rejekinya ya pasti lolos. (JANGAN DITIRU, INI SALAH BESAR).

Nah, pas kemarin ijazah S1 udah di tangan, terus ada bukaan CPNS, diskusi sama ortu, sudah test biasa aja dan diputuskan aku akan daftar di Kulon Progo. Tapi, pas hari-hari terakhir pendaftaran, aku justru melenceng, seolah aku mendapat bisikan bahwa rejekiku bukan di Kulon Progo. Akhirnya, aku memilih tempat yang sekarang ini. Upss,, bagaimana dengan orang tua? Sempat tuch orang tua marah besar, bukannya kemarin bikin kesepakatan bahwa aku akan daftar di Kulon Progo. Tapi, ya semarah-marahnya orang tua tetap didoakan yang terbaik untuk anaknya. Hehehe

Karena sudah dimarahin, aku akhirnya berusaha keras belajar, hingga tidur lewat tengah malam di depan laptop yang masih menyala. Intinya aku belajar semaksimal mungkin (Eustres=stres yang memacu semangat). Stres banget aku saat itu, aku berpikir kalo ujian CPNS saat ini dengan sistem CAT, dimana hasilnya langsung keluar, bisa dibayangkan kalo nilainya jelek kan malu banget. Walaupun ga ada yang kenal, tapi kan kalo nilainya jelek aduch kelihatan bodohnya.

Mungkin, memang keberuntunganku saat itu, 2minggu sebelum test CPNS Mr. S (dosen psikologi Kepribadian), membahas tentang beraneka jenis test kepribadian. Akhirnya aku bertanya tentang test kepribadian pada materi test CPNS itu, kata beliau “Test kepribadian pada soal CPNS itu sebenernya sangat tidak valid, mudah dipelajari, pake logika saja”. Alhamdulillah tips dari Mr.S membuat nilai test kepribadianku cukup tinggi.

Terus ada lagi tips dari dosenku dulu yang udah lama banget “Kalo test CPNS itu bawa saja kamera (kalo bawa HP kan ga boleh, kalo bawa kamera itu ga dilarang_tapi kalo sistem CAT seperti aku kemarin, jangankan bawa kamera bawa pulpen aja ga boleh_diperiksa, jadi hasil test benar2 murni dari pemikiran kita), terus di foto itu soal2 CPNSnya, biasanya soalnya dari tahun ke tahun mirip” Ini juga membantuku mendapat nilai bagus. Maksudnya bukan berarti aku bawa kamera, tapi aku mempelajari tipe2 soal pada test CPNS yang dahulu. Kisi-kisi soalnya.

1.    Doa, ya doa kita sendiri, doa orang tua. Jangan meremehkan doa ini, minta kepada Sang Pemberi Rezeki, InsyaAllah pasti dikabulkan. Jangan lupa minta orang tua mendoakan juga. Nah, pas hari dimana kita akan ujian tepat saat jam kita ujian, minta orang tua untuk berdzikir, berdoa untuk kita, itu sangat membantu sekali. Pengalaman ujian kemarin, aku juga merasa bahwa kemudahan soal-soal ujian karena berkah doa dari orang tua.
2.    Jangan berpikir klo untuk lolos CPNS itu sebuah keberuntungan, itu MUSTAHIL (apalagi untuk yang berotak pas-pasan), semuanya butuh kerja keras. Bayangkan untuk lolos UJIAN AKHIR NASIONAL saja kita harus mulai belajar minimal dari 3 bulan sebelum ujian. Sementara untuk test CPNS dimana kita dituntut untuk menjadi yang terbaik kita hanya mengandalkan keberuntungan. (persentase untuk lolos CPNS sangat kecil)
3.    Jangan tertarik untuk pake uang2 segala, gaji PNS tu cuma sedikit, buat ngembaliin modalnya tu lama (ini si itung-itungan pedagang yang masih mikir untung rugi). Hahaha
Bayangkan saja, dengan uang minimal 50Juta (minimal ini, karena tarif CPNS saat ini ga murah gitu, kemarin aja tembus sampai angka 100Jt), terus kita jadi CPNS dengan gaji katakanlah 2juta, berapa bulan tuch uang 50 juta bakalan balik? Minimal 2tahun itupun kita ga boleh makai uang gaji kita untuk apapun, bahkan sekedar untuk makan(kecuali bisa korupsi…hahaha). Nah lho…
Jadi niatkan saja bahwa kita ingin test murni, cari rejeki yang halal. InsyaAllah ada jalan.
4.    Jangan pelit ngeluarin uang untuk beli buku Latihan Soal CPNS, karena itu sangat membantu lho, tapi ketika kita mempelajari latihan-latihan soal itu jangan hanya membaca soal itu dan jawabannya, tapi baca soal itu dan cari materinya, jadi kita ga hanya dapet ilmu tentang soal itu, tapi juga materi yang lainnya. Sebenernya aku juga termasuk pelit nich soal pengeluaran uang untuk beli buku ini, tapi kebetulan ada saudara yang mau minjemin dan ternyata itu sangat membantu.
5.    Jangan banyak bicara kepada setiap orang yang kita temui dimana kita mendaftar CPNS. Katakan saja, “Iya daftar, mohon doanya”. Ga usah katakan kita mendaftar dimana.

Dan....inilah hasilnya