Jumat, 27 Februari 2015

Barokah Doa Ibu



Suatu hari bapak di BKD itu bilang “Selamat…kalian semua orang2 cerdas!Hanya orang2 cerdas yang bisa keterima disini”. Cerdas? Rasanya aku tak secerdas yang mereka kira, aku hanya anak biasa saja, nilai sekolahku bukan yang terbaik di sekolah, IPK kuliah juga standar rata2 mahasiswa, jauh jika dikatakan aku cerdas. Hmm..

Lalu kenapa bisa aku keterima CPNS sedangkan banyak yang lebih cerdas daripada aku, IPK cumlaude, berprestasi dalam berbagai hal. Aku merasakan ini semua karena barokahnya doa ibu. Bagaimana tidak, aku sendiri merasakan aku tidak secerdas yang mereka kira?

Aku menyadari dengan sepenuh hati bahwa aku lolos CPNS karena berkah doa ibu. Apakah saat dulu mendaftar Jogja, Magelang, Purworejo tidak ada doa ibu? Ada, tapi saat itu hubungan kami cukup buruk, aku mendaftar keluar kota lebih karena rasa keegoisanku untuk segera pergi dari rumah dan punya penghasilan sendiri tanpa perlu bantuan orang tua lagi. Dan sekarang, aku sudah mulai nyaman hidup di rumah, aku telah memperbaiki hubunganku dengan orang tua. Walaupun kadang masih suka marah2 ya anggap wajar saja.

Ketika pilihan mendaftar CPNS, aku dan bapak memang sempat bentrok. Semua terjadi secara mendadak, ketika kemudian aku memutuskan untuk mendaftar di Boyolali jauh dari kesepakatan awal bahwa aku akan mendaftar di Kulon Progo. Tapi, dengan komunikasi akhirnya bapak mengikhlaskan.

Sempat terjadi bentrok membuat aku berjuang keras agar lolos CPNS tahun ini, tidur hingga larut malam, lebih tepatnya tertidur di depan laptop yang masih menyala, ngafalin berbagai materi CPNS yang kemungkinan keluar. Berusaha dan berdoa sekuat tenaga.

Kenapa sampai terjadi bentrok, karena aku menolak dengan tegas untuk melakukan suap CPNS! Terus ketika aku dan orang tua sepakat untuk mendaftar Kulon Progo, tiba2 aku melenceng jauh ke Boyolali (kota yang ntah dimana, ga pernah ada dalam khayalanku untuk tinggal disini).

Bayangkan saja, tarif CPNS untuk lulusan SMA 50jt, D2/D3 75jt, S1 125jt! Ahhhh….uang darimana itu? Uang dari ortu lah, kan ortu yang nawarin kalau mau! Tapi, selain secara agama rejeki dari hasil suap itu tidak berkah, hal lainnya yang membuat aku malas untuk menerima tawaran itu adalah karena profesi yang akan aku lalui adalah GURU, seorang pendidik. Lha klo lolos CPNS karena suap, bukankah aku akan menjadi guru yang paling bodoh? Selain itu, walaupun orang tua mengatakan bahwa uang untuk suap itu tak perlu dikembalikan, perasaanku tetap saja tak enak, orang tiap hari saja orang tua selalu mengatakan “kamu itu orang yang paling banyak menghabiskan uang di keluarga ini!”, bayangkan saja walaupun sejatinya orang tua ingin mengatakan “hiduplah hemat, jangan boros!”. Tapi ternyata yang keluar adalah kata2 bahwa aku penghabis uang terbanyak di keluarga ini. Terus, ntar kalo dah lolos CPNS kalau aku melakukan hal yang ‘aneh’ yang mengeluarkan banyak uang pasti dimarahin lagi “kuliah sudah menghabiskan jutaan, kerja juga menghabiskan ratusan juta” ahhhhh……rasanya tak cukup kuat mentalku mendengar kata2 itu.

Selain berusaha keras belajar, berdoa tak lupa kulakukan, mau tahu ga doanya gimana? Jujur banget “Ya Allah tunjukkan bukti kekuasaanMu bahwa aku bisa lolos CPNS tanpa uang!”. Kenapa aku berdoa seperti ini? Di keluarga besar kami rata2 semua yang masuk jadi PNS adalah dengan uang! Tak ada yang tidak pake uang. Jadi semuanya sudah tersugesti bahwa CPNS=Uang, Tak Ada Uang=Tak Akan Jadi PNS!

Seminggu sebelum test, aku ke Jogja (aku persiapan test di Jogja, aku memilih Jogja dikarenakan jaringan internet yang lebih baik daripada Purworejo, lebih mudah mencari materi CPNS). Sebelum berangkat ke Jogja, aku minta maaf ke orang tua, mohon doanya agar dimudahkan segala urusan. Tak lupa meminta kepada ibu untuk membantuku doa pas waktu aku ujian, aku minta beliau dzikir sebisanya untukku.

Ya…hari itu 16 Oktober 2014, aku berangkat ke Solo sendiri, sebelum berangkat kurimkan sms kepada orang tua untuk meminta restu mereka, sms kakung dan uti yang lagi di Mekkah mohon doanya. Aku berangkat sendiri, ketika sampai disana melihat peserta test banyak yang dianter keluarganya aku cuma gigit jari, tak apalah mereka dianter keluarga, aku juga datang dengan dianter “doa orang tua”.
 1 jam dari jadwal test, kami sudah masuk ruangan, sebelum masuk kukirimkan sms ke orang tua. Lagi…lagi…minta doa. Waktu mengerjakan ibuku benar2 berdzikir untukku, hingga aku kemudian menjerit dalam hati “Soal apaan ini, kenapa ga ada yang keluar yang kuhafalin!” Tapi, alhamdulillah soalnya mudah, walaupun tak satupun keluar soal yang kupelajari, soal2nya cukup bisa dinalar. Ketika tiba2 laptop yang kupakaipun nge-hang kemudian perlu dibetulkan beberapa orang semua bisa diselesaikan dengan baik. Hanya saja, ketika semua peserta test sudah selesai mengerjakan, sedangkan aku masih mempunyai kisaran waktu 20menit gara2 laptop yang sempat nge-hang itu, aku sudah sangat panik sekali, apalagi soal yang tersisa adalah soal2 yang cukup sulit (Nah, disini dikaitkan dengan doa ibu, ternyata ibu telah mengakhiri dzikirnya untukku karena dikiranya aku sudah selesai mengerjakan karena sudah lebih dari 2jam). Sungguh menit2 terakhir inilah aku merasakan sulit mengerjakan. Sudah panik, soal yang tersisa adalah soal sulit dan yang pasti tanpa doa ibu! Ditambah lagi aku adalah peserta test terakhir yang belum juga keluar, panitia yang tidak tahu bahwa laptopku sempat nge-hang tadi penasaran kenapa aku tak kunjung keluar, akhirnya semua panitia berkumpul di dekat mejaku. Ampunnnn…ini bikin tambah panik setengah mati.

Alhamdulillah selesai, pas mau lihat hasilnya, panik banget, ini panitia ngapain si pada kumpul disini, kan malu kalo nilainya jelek. Sempat hingga beberapa waktu aku tak juga mengklik nilainya. “ayo mbak buruan diklik itu skornya” kata seorang panitia. Ampun dech pak…kenapa bapak2 pada disini, aku kan malu kalo nilaiku jelek. Mau tak mau akhirnya kuklik juga, taraaaaaaaaaaa…… 386 (105 untuk TWK, 120 untuk TIU, 161 untuk TKP). Alhamdulillah, ini sungguh luar biasa. Dan ketika jurnal keluar Alhamdulillah peringkat 1. Inilah untuk pertama kali aku menjadi yang pertama (bahagia banget rasanya).

Dan lihatlah, bahwa semua itu karena barokah doa ibu, lihatlah betapa aku mendapatkan soal2 yang mudah, lihatlah ketika ibu berhenti berdoa lalu aku mengalami kesulitan mengerjakan soal. Ya…semua kesuksesan ini karena doa ibu, karena doa bapak, karena doa kakak, karena doa kakung dan uti di Mekkah dan semuanya yang tak bisa disebutkan satu per satu.

(Copas dari Google)

1 komentar:

  1. Assalamu Alaikum wr-wb, perkenalkan nama saya ibu Rosnida zainab asal Kalimantan Timur, saya ingin mempublikasikan KISAH KESUKSESAN saya menjadi seorang PNS. saya ingin berbagi kesuksesan keseluruh pegawai honorer di instansi pemerintahan manapun, saya mengabdikan diri sebagai guru disebuah desa terpencil, dan disini daerah tempat saya mengajar hanya dialiri listrik tenaga surya, saya melakukan ini demi kepentingan anak murid saya yang ingin menggapai cita-cita, Sudah 9 tahun saya jadi tenaga honor belum diangkat jadi PNS Bahkan saya sudah 4 kali mengikuti ujian, dan membayar 70 jt namun hailnya nol uang pun tidak kembali, bahkan saya sempat putus asah, pada suatu hari sekolah tempat saya mengajar mendapat tamu istimewa dari salah seorang pejabat tinggi dari kantor BKN pusat karena saya sendiri mendapat penghargaan pengawai honorer teladan, disinilah awal perkenalan saya dengan beliau, dan secara kebetulan beliau menitipkan nomor hp pribadinya dan 3 bln kemudian saya pun coba menghubungi beliau dan beliau menyuruh saya mengirim berkas saya melalui email, Satu minggu kemudian saya sudah ada panggilan ke jakarta untuk ujian, alhamdulillah berkat bantuan beliau saya pun bisa lulus dan SK saya akhirnya bisa keluar,dan saya sangat berterimah kasih ke pada beliau dan sudah mau membantu saya, itu adalah kisah nyata dari saya, jika anda ingin seperti saya, anda bisa Hubungi Bpk Drs Tauhid SH Msi No Hp 0853-1144-2258. siapa tau beliau masih bisa membantu anda, Wassalamu Alaikum Wr Wr ..

    BalasHapus