Inspirasi nulis ini
karena banyak orang yang mengira, “daftar CPNS disana pacarnya orang sana ya?”.
Pacar? Duch…aku tu bukan penganut paham ‘pacaran pra nikah’. Boro2 pacar, lha
aku aja ga punya kenalan siapa2 disana pas daftar. Bener2 tempat baru yang
asing. Tahu orang2 disana juga baru itungan jari,
- Bapak berkumis tebal yg ngasih undangan hari pertama aku datang kesana. Sampai hari ini belom tahu namanya.
- Pak Ismadi, yg sms ngasih kabar. Dan kutunggu selalu sms nya nyaris 2 bulan ini. Xixixi
- Pak Kepala BKD, hafal orangnya, lupa namanya. OMG…
- Pak Sarwanto yg membuat hatiku hancur berkeping2.
- Mbak Annisa, temen yang lolos CPNS juga
- Mbak Asmi, temen yang lolos CPNS juga
- Desi Kusumadewi, ini teman SMA yang kutahu ternyata dia tinggal di Boyolali setelah pengumuman CPNS.
- Mas Muhammad Fadholi, suaminya Desi.
Nah, benar kan baru itungan jari tangan, masih sisa 2, siapakah orang
kesembilan dan kesepuluh yang akan kukenal???
Sungguh, aku ga kenal
orang sama sekali disana. Terus kok nekat daftar disana? Ahhh…jika ditanya
itupun aku juga bingung harus jawab apa. Semua tanpa rencana. Jauh dari rencana
awal.
Jauh dari rencana?
Memang rencana awal dimana? Rencana awal tu daftar Kulon Progo (kebetulan tu
penempatan masih bisa dilaju dari rumah). Tapi, ntah kenapa hari2 terakhir
pendaftaran tiba2 aku ga terlalu ingin daftar disana, rasanya mustahil keterima
disana. Melencenglah jauh, BOYOLALI sebagai pilihan.
Kenapa pilihan jatuh ke
Boyolali? Lagi2 aku tak tahu juga harus memberi alasan apa yang membuat aku
memilih kota ini. Sungguh, seumur hidupku aku belum pernah datang ke kota ini.
Tak tahu gimana caranya pula sampai kota ini. Ga tahu harus naik transportasi
apa untuk kesana. Ga tahu daerahnya gimana. Parahnya lagi ga ada saudara atau
kenalan disana saat itu. Bahkan ketika pembekalan pemberkasan kemudian seorang
teman bilang “kamu nekat banget ya mbak daftar disini, kamu sudah tahu belum si
daerah penempatan kita? Daerah penempatan kita tu di pelosok sekali. Daerahnya
hutan jati, tanah labil, jalannya rusak.” Ahhhh…aku tak tahu. Pas, aku cerita
sama bapak “Pak, tahu ga si kata temenku penempatannya di tengah hutan?”. Bapak
jawab dengan santainya “Di tengah hutan kalo ada sekolahan, pasti ada
manusianya, ga mungkin isinya monyet”.
Benarkah keputusan ini nekat, tanpa
pertimbangan? Rasanya tidak juga, aku sempat Shalat Istikharah sebelum
mengambil keputusan ini. Dan saat itu hatiku mengatakan bahwa rejekiku bukan di
Kulon Progo, akhirnya aku pilih Boyolali. Kenapa Boyolali? Aku juga tak tahu
ini, aku bingung jawabnya. Jawaban paling bisa kujawab, aku memilih Boyolali
karena aku disini ga punya kenalan siapapun, aku menghindari praktik suap dalam
penerimaan CPNS. Aku tak mau, rejekiku dari hasil suap. Memangnya di Kulon
Progo pakai suap? Kagak si, tapi ada saudara disana, takut aja ntar aku
keterima CPNS dengan suap. Nah, klo di Boyolali kan ga ada kenalan, ga ada saudara,
rasanya lebih aman dari praktek suap.
Menyesal ga daftar CPNS
di kota itu? Ehmmm…sempat menyesal ternyata Boyolali test CPNS pertama se
Jateng, belum siap menghadapi test saat itu. Sempat menyesal juga sebelum test
CPNS dikasih tahu jumlah pendaftar hampir 1200 peserta, semakin kecil persentase
lolos. Menyesal ketika melihat hasil CPNS, dengan nilai segitu aku keterima di
seluruh kabupaten di Yogyakarta. Astaughfirullah…ga ada bersyukurnya.
Insya Allah sekarang
sudah ga menyesal lagi, sudah bisa menerima sepenuh hati inilah jalan hidupku.
Kalau daftar di Yogyakarta belum tentu juga dapat nilai segitu. Dan mungkin
memang aku harus keluar dari zona nyaman, terlalu nyaman hidup di rumah, ga ada
tantangan sama sekali. Dan yang terpenting aku akan bisa mengaplikasikan ilmu
psikologi sosial yang kupelajari (rahasia ini, belum akan kupublikasikan
sekarang).
Sampai hari ini sudah
berapa kali datang ke Boyolali? Sampai hari ini baru jumlah jari 1 tangan saja.
Hihihi…
Kapan saja itu?
Yang pertama, tanggal
19 Desember 2014. Hari itu, aku mengambil surat undangan pembekalan pemberkasan
CPNS di BKD Boyolali. Untuk pertama kalinya aku menginjakkan kakiku di kota
ini. Waktu itu sudah pukul 8.30, hari terakhir pengambilan surat undangan
pembekalan pemberkasan. Tiba-tiba Hpku berbunyi, ada telfon, tahu ga dari
siapa? Dari pegawai BKD, tanya kenapa belum ambil surat undangan? Apakah belum
mendapat sms dari BKD? Hihihi…sabar ya pak, saya lagi di jalan ini, sudah mau
sampai kok. Terus dikasih tahu rutenya sama bapaknya yang telfon itu. Aku Cuma bilang
iya…iya…iya..hihihi lha mau bilang gimana lagi? Orang ga tahu juga, terus
ditanya sama mas sopirnya gimana rutenya? Lurus aja, ntar ketemu patung
Soekarno tanya aja itu daerah sana, kagak mudeng aku. Terus, sudah nyampai
patung Soekarno, tanya ke orang, masuk ke komplek perkantoran Pemda Boyolali,
pesan bapaknya itu “Nanti, parkir di masjid saja, terus masuk lewat pintu
belakang”. Ahhh…kita si parkir di masjid, tapi aku jalan muter ga maulah lewat
pintu belakang, kesannya gimana gitu. Tapi, sekarang kalau kesana justru lebih
suka lewat pintu belakang, lebih dekat. Hihihi
Sampai di BKD, minta
maaf datang sudah terakhir, cerita kalau baru pertama kali datang ke Boyolali,
mengira kalau kemarin waktu dapat sms itu sms penipuan (OMG, ternyata pak
Ismadi yang sms ada di belakang bapaknya, udah bilang ngira sms penipuan lagi).
Bapaknya bilang “hebat, luar biasa baru pertama kali datang kesini dengan kabar
bahagia, selamat ya mbak”.
Sudah, Cuma nerima
surat undangan aja, terus pulang.
Yang kedua, 22 Desember
2014 pembekalan pemberkasan CPNS. Ga ada cerita unik hari ini, hanya
mendengarkan sambutan dari pak Kepala BKD dan pembekalan pemberkasan dari Pak
Sarwanto.
Yang ketiga, 29
Desember 2014 pemberkasan CPNS. Hari ini juga ga terlalu unik, hanya
mengumpulkan berkas terus boleh pulang.
Yang keempat, 05
Januari 2015 hari ini aku janjian ma temen SMAku si Desi, setelah kemarin 3X
dianter terus, sekarang mencoba belajar mandiri, naek bis. Dijemput Desi di
Tugu Kartasura, terus diajakin makan siang ketemu sama suaminya. Pinginnya si
naek angkutan kota, tapi ternyata ga tahu jalur angkutan kota. Tapi, ngobrol
kesana kemari sama Mas Fadholi jadi sedikit punya gambaran tentang Boyolali.
Makasih buat semuanya…Allah yang akan membalas kebaikan kalian. Sungguh aku ga
mau lagi naek bis untuk transportasi pulang. Lebih baik pramex aja.
Yang kelima, 09
Februari 2015 sudah kurencanakan untuk survey lokasi, sudah minta izin Mas
Fadholi kalo ngajakin istrinya untuk survey bagaimana? Boleh ga? Ternyata
boleh, okelah. Aku berangkat dengan kereta dari Jogja, terus lagi2 dijemput
sama Desi (yaiyalah, sama siapa lagi? Kan udah kubilang tadi, kagak punya
pacar.), setelah keliling2 kota, makan pagi menjelang siang, survey menuju
Wonosegoro. Lupa aku jalannya, kalau disuruh kesana lagi ntahlah…Yang kuingat,
pokoknya dari jalan Solo-Boyolali itu nanti ada plang penunjuk jalan ke arah
Simo, sudah ikuti jalan itu aja, jalannya cuma satu. Lewat
Sambi-Simo-Karanggede-Wonosegoro, sampai sana benar2 merasakan di tengah hutan.
Tengah hutan jati, sejauh mata memandang. Berbeda dengan disini (di desa
kelahiranku) sejauh mata memandang hamparan sawah yang terbentang luas. Di Wonosegoro hawanya masih sejuk, lanjut
lagi ke Juwangi, nanggung udah nyampe sini kok ga sekalian sampai utara,
setelah melewati rel kereta api, kenapa aku merasakan suhu udara yang
meningkat. Panas sekali di Juwangi itu, rasanya tanah pun mengeluarkan hawa
panas, seperti musim kemarau di Purworejo, tapi kalau di Purworejo musim
kemarau itu angin bertiup kencang, sedang disini rasanya sungguh luar biasa. Tak
lama aku disini, waktu sudah menunjukkan hampir pukul 14.00, harus balik Jogja
lagi, karena tadi pagi perginya pamit pulang. Kalo tadi mengandalkan GPS,
baliknya HP mati kehabisan baterai, akhirnya tanya2 ke orang dan akupun semakin
bingung jalannya karena tidak sama dengan jalan tadi berangkat. Tapi, kata Desi
jalannya lebih mudah baliknya. Dari Juwangi tadi sempat kulirik speedometer.
Nah, ternyata perjalanan dari Juwangi-Wonosegoro-Boyolali-Stasiun Purwosari ±90Km.
Bayangkan? Purworejo-Jogja saja hanya sekitar 60Km.
Tapi, tak perlu
menyesal, walaupun jauh aku melihat Boyolali lebih baik daripada Purworejo. Yang jelas di kota ini lebih diakui daripada di Purworejo. Bukan begitu?
Demikian, catatan
tentang perjalanan hingga sampai ke Boyolali, bukan karena ada pacar disana,
karena Allah menetapkan rejekiku disana. Bagaimana dengan orang tua? Ikhlaskah
mereka aku disana? Waktu mendaftar disana sedikit tidak ikhlas, tapi InsyaAllah
sekarang sudah ikhlas. Alhamdulillah…Boyolali Tersenyum.
Assalamu Alaikum wr-wb, perkenalkan nama saya ibu Rosnida zainab asal Kalimantan Timur, saya ingin mempublikasikan KISAH KESUKSESAN saya menjadi seorang PNS. saya ingin berbagi kesuksesan keseluruh pegawai honorer di instansi pemerintahan manapun, saya mengabdikan diri sebagai guru disebuah desa terpencil, dan disini daerah tempat saya mengajar hanya dialiri listrik tenaga surya, saya melakukan ini demi kepentingan anak murid saya yang ingin menggapai cita-cita, Sudah 9 tahun saya jadi tenaga honor belum diangkat jadi PNS Bahkan saya sudah 4 kali mengikuti ujian, dan membayar 70 jt namun hailnya nol uang pun tidak kembali, bahkan saya sempat putus asah, pada suatu hari sekolah tempat saya mengajar mendapat tamu istimewa dari salah seorang pejabat tinggi dari kantor BKN pusat karena saya sendiri mendapat penghargaan pengawai honorer teladan, disinilah awal perkenalan saya dengan beliau, dan secara kebetulan beliau menitipkan nomor hp pribadinya dan 3 bln kemudian saya pun coba menghubungi beliau dan beliau menyuruh saya mengirim berkas saya melalui email, Satu minggu kemudian saya sudah ada panggilan ke jakarta untuk ujian, alhamdulillah berkat bantuan beliau saya pun bisa lulus dan SK saya akhirnya bisa keluar,dan saya sangat berterimah kasih ke pada beliau dan sudah mau membantu saya, itu adalah kisah nyata dari saya, jika anda ingin seperti saya, anda bisa Hubungi Bpk Drs Tauhid SH Msi No Hp 0853-1144-2258. siapa tau beliau masih bisa membantu anda, Wassalamu Alaikum Wr Wr ..
BalasHapus