Sabtu, 21 Maret 2015

Hanya 6 Bulan!



6 bulan….
Hanya 6 bulan saja
6 bulan waktu yang luar biasa
6 bulan yang merubah hidupku
6 bulan yang menghancurkan mimpiku
Alhamdulillah, semoga ini baik
Semoga Allah menggantinya di lain waktu disaat yang lebih tepat.

Yach…saat itu, aku memutuskan untuk melanjutkan studi, kembali ke bangku kuliah yang memang menjadi mimpiku.  Saat itu memang sedikit ragu, antara Jogja atau Solo. Tapi, dengan berbagai pertimbangan akhirnya ambillah di Jogja. Magister Sains Psikologi Sekolah Universitas Ahmad Dahlan. 

6 bulan itu benar-benar ga ada celah galau, waktu berjalan begitu cepat. Antara tugas mengajar di sekolah senin-kamis, lalu kamis siang langsung otw Jogja hingga minggu. Lalu masih harus memikirkan  mengolah nilai UTS anak-anak kurikulum 2013, seleksi CPNS, pasca ujian CPNS sudah lanjut UTS kuliah, tugas-tugas presentasi, tugas-tugas makalah, UTS selesai anak-anak ujian semester, mengolah nilai kurikulum 2013, lalu pemberkasan CPNS, setelah itu UAS kuliah.

6 bulan yang sungguh menyenangkan. Sama sekali ga merasakan kuliah yang memeras otak, kuliah yang dibahas adalah kejadian-kejadian yang ada dalam kehidupan kita sehari-hari, hanya stres ketika tugas numpuk saja. Sangat mudah dan menyenangkan. Banyak pelajaran berharga untuk kita mengarungi kehidupan ini dengan lebih bijak, psikologi  kepribadian membentuk kita menjadi pribadi yang baik. Pelajaran untuk jadi ibu yang baik untuk anak-anak kelak dengan psikologi perkembangan membahas perkembangan dari segala aspek dari pra kelahiran hingga meninggal. Psikologi Sosial, menjadikan kita lebih peka terhadap kehidupan masyarakat di sekitar kita. Adapula psikologi pendidikan yang sangat bermanfaat dalam bidang pendidikan, membantuku menemukan solusi masalah-masalah dalam mengajar. Psikologi abnormal, mempelajari tentang manusia yang berbeda dengan manusia kebanyakan, bagaimana penanganannya. Adapula psikologi industri dan organisasi yang mempelajari tentang kita dan dunia kerja. Sungguh menyenangkan semua itu. Apalagi ditambah dengan suasana kampus yang berbasis Islam, segalanya kembali berdasarkan ajaran Islam yang indah.

6 bulan yang mengubah hidup, apakah yang berubah? Ya, hari itu 2 minggu sebelum ujian CPNS dosen psikologi kepribadian ‘Mr. S’ membahas materi “test kepribadian”. Bla…bla…bla…setelah penjelasannya panjang lebar akhirnya aku bertanya bagaimana dengan test kepribadian dalam CPNS? Jawaban beliau ini yang benar-benar kujadikan panduan dalam mengerjakan soal CPNS dan mentarget nilai CPNS harus 160. Alhamdulillah sesuai target 161. Dan lolos.

6 bulan belajar psikologi justru membuatku membutuhkan bantuan psikolog. (Nah lho, kalian pasti mengira aku stres berat). Ohhh tidak, ternyata psikolog itu tidak seperti yang masyarakat katakan “dokternya orang stres”. Psikolog itu bisa membantu kita meningkatkan perfomance diri, membantu kita menemukan bakat kita. Pokoknya dunia psikologi ini luar biasa menurutku.

6 bulan menemukan sahabat yang luar biasa. Ntahlah, kenapa kalo ngobrol sama tante satu itu rasanya nyambung. Apapun itu sepakat pokoknya. Dia yang pandai ngomong, pandai mendebat, ide-idenya luar biasa, bertolak belakang denganku, tapi ntah kenapa kita nyambung jika bicara. Seharian duduk di kelas belum selesai itu ngobrol banyak hal, sampai-sampai 3 lampu merah di Jogja selalu menjadi saksi persahabatan kita (hehehe…ngobrol di tengah jalan saat lampu merah menyala). Dan lampu merah ke empat adalah lampu merah perpisahan. Dan kesimpulan kami “Hati-hati kalau punya teman yang kuliah psikologi, siap-siap segala aktivitas kita jadi objek penelitiannya”. Yaaa…inilah kuliah yang mengubah hidupku, aku yang cenderung cuek dengan lingkungan sekitar, mulai merubah mulai mencoba lebih peka, karena mau tidak mau dalam psikologi yang menjadi objek penelitiannya adalah manusia. Selama ada manusia ilmu psikologi akan selalu dibutuhkan.

Itulah sekelumit kisah 6 bulan menjadi mahasiswa psikologi, hanya 6 bulan saja. Karena, kemudian aku memutuskan mengambil cuti, walaupun cuti tapi ga tahu apa mungkin dilanjut atau tidak. Izin belajar yang kuajukan di BKD ditolak, lalu jarak tempuh Boyolali bagian utara-Jogja juga sangat tidak memungkinkan untuk kujangkau. Andaikan jarak tempuhnya dekat mungkin akan tetap kulanjutkan, karena aku suka dengan ilmunya. Sudahlah…inilah kenangan. Akan menjadi sebuah cerita untuk anak cucu kelak. Andaikan BKD memberi izin, aku juga tak cukup siap untuk mendapat predikat “mahasiswa S2 terlama”. InsyaAllah ini baik…semoga Allah memberikan kesempatan lagi.

Kamis, 19 Maret 2015

Jadilah Penulis!



Hari itu, seminggu setelah pengajuan izin belajarku ditolak BKD. Galau rasanya! Ahhhh…aku hanya ingin belajar, tapi kenapa tidak dikasih izin! Sedih pakai banget. Berat meninggalkan Jogja. Tapi, dari pagi ibu sudah telfon “hari ini kamu harus pulang!”. Sungguh, berat meninggalkan Jogja. Tapi, aku harus pulang. Aku pulang jam 2 siang. Masih berhenti mampir tempat saudara di daerah Gamping.

Disana cerita sama si mas sepupu yang kerja di BKD Kulon Progo, izin belajarku ditolak sama BKD Boyolali. Mas sepupu itu justru tertawa terbahak, aku kan sudah bilang dari kemarin ga bakalan dikasih izin begitu katanya. Hikss…masak si orang cuma mau belajar aja ga dikasih izin. Sudah, ga usah sedih, kamu itu besok kalau mau lanjut kuliah kalau sudah golongan 3c atau 3d. jadi, buat lompat ke 4a itu lebih mudah. Sekarang konsentrasi sama CPNSmu dulu, terus banyak-banyaklah menulis karya ilmiah. Menulis bagi seorang guru banyak manfaatnya, untuk point-point penilaian angka kredit. Kalau kamu lanjut S2 sekarang itu tak banyak gunanya untuk kenaikan pangkat ke 3b besok.

Ahhhh….aku lanjut S2 memang bukan untuk lanjut kenaikan pangkat. Aku memang suka dengan jurusan yang kuambil saat ini, berbeda dengan kuliah S1 yang karena menuruti keinginan orang tua, kali ini jurusan yang kuambil memang sebuah cita-cita. Sebuah keinginan. Sesuatu yang ingin aku pelajari sejak sebelum lulus SMA. Kalaupun BKD memang ga ngasih izin, kalau jarak tempuh kerja-kampus bisa dijangkau mungkin aku akan tetap lanjut kuliahnya, tak peduli itu ijazah ga terpakai dalam administrasi kepegawaian. Karena ilmu ini keren banget, benar-benar mempersiapkan kita menjadi calon ibu yang baik untuk anak-anak kita kelak. Tapi, mungkin memang Allah belum mengizinkan aku kuliah saat ini. Mungkin Allah sudah mengatur waktu yang lebih tepat untukku kembali bisa merasakan bangku pascasarjana.

Jadilah penulis! Kata-kata mas sepupu itu yang terngiang hingga akhirnya kubuat blog ini. Menulis itu berhubungan dengan berbahasa. Aku bukan orang yang pandai dalam berbahasa, terlihat dari nilaiku sejak TK. Lalu, bagaimana mungkin jadi penulis? Aku hanya ingat kata-kata seorang penulis hebat “berlatihlah menuliskan segala hal dalam hidupmu, tuliskan apa saja, kelak semakin lama tulisanmu akan semakin baik”.

Aku belum tahu banyak apa manfaatnya menulis bagiku pribadi saat ini, tapi akan kucoba untuk menulis hal-hal yang bermanfaat. Siapa tahu kelak tulisan-tulisanku bisa jadi sebuah amal jariyah.
“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631)

Memang tidak mudah membuat sebuah tulisan yang oke, tapi semua penulis terkenal itu tentu melewati proses panjang untuk menghasilkan tulisan-tulisan yang enak dibaca. Jadi, mari belajar menulis. Jadilah Penulis!

Rabu, 18 Maret 2015

Hanya Perlu Keyakinan!



Tulisan ini terinspirasi dari ketidakpercayaanku tentang seseorang dengan prestasi-prestasinya yang begitu dibanggakan banyak orang, guru-gurunya pun mengungkapkan kebanggaannya, tapi ternyata dia begitu pasrah ketika orang tuanya memutuskan dia harus jadi PNS walaupun harus pake SUAP!!!

Ahhh….lagi-lagi bahasannya soal PNS. Ya..PNS masih jadi pekerjaan yang dianggap ‘menjanjikan’ bagi banyak orang di Indonesia, terbukti dari jumlah pelamar hingga jutaan. Bahkan kemarin saja untuk formasi CPNS Boyolali untuk guru SD yang hanya 28 jumlah pelamarnya mencapai 1000 lebih. Lebih parah lagi formasi untuk pengawas pemerintahan yang hanya 2 jumlah pelamarnya mencapai 1200an. 

Penerimaan CPNS Tahun 2014 dengan mengedepankan prinsip transparansi, akuntabel dan jujur harusnya tidak ada lagi calo CPNS. Tapi, nyatanya masih saja ada. Dan…aku juga ditawari! Orang tua sempat mau, tarifnya 125juta, bayar di awal, dan parahnya lagi pakai ijazahnya SMA jadi kalau keterima cuma golongan 2. Hadewhhh…sia-sia dung kuliahku ga kepakai. Sekali lagi kutegaskan TIDAK! Aku tidak mau rezekiku tidak berkah titik. Tapi, ngasih alasannya ke orang tua si bukan gitu. Pakai cara yang lebih masuk akal. Dan Alhamdulillah saudara-saudara juga ngasih pengertian ke orang tua. Bahwa sekarang ga mungkin pakai calo karena begitu ujian selesai maka nilainya akan langsung diketahui. Akhirnya Bismillah saja.

Terus kenapa masih ada yang memakai calo? Ntahlah mungkin mereka masih berpikir itu cara termudah dan cepat untuk lolos. Lha tapi, bukannya kalo pake calo gitu juga masih harus belajar? So, kalau ternyata sebenarnya kita layak lolos dengan kemampuan kita, tapi kita juga ngeluarin uang yang ‘tidak jelas kegunaannya’. Apa ga sedih? Mending buat pergi haji…

Seleksi CPNS itu sulitkah? Ntahlah, aku tak bisa menjawab. Aku dulu menganggap lulus CPNS itu lebih karena faktor keberuntungan. Tapi, kemudian aku berfikir selain faktor keberuntungan juga ada faktor usaha dan doa. Tanpa usaha manusia adalah pemalas dan tanpa doa itu adalah manusia sombong. Ya, akupun lalu belajar lebih giat daripada saat seleksi CPNS yang dulu-dulu. Seleksi kali ini terbukti betapa paniknya aku saat seleksi CPNS, walaupun sudah belajar berbagai materi, aku merasa belum siap, aku masih tahu bagian-bagian materi yang belum kupelajari, belum ngafalin materi UUD, terus apalagi ntah kemarin, cukup banyak. Panik banget aku dari pagi. Berbeda dengan CPNS tahun-tahun lalu, saat itu aku tak tahu materinya apaan dan santai sekali pas berangkat ujian.
Sebenarnya materi CPNS itu sudah ada kisi-kisinya, sudah banyak dipublikasikan. Bukankah seleksi CPNS itu hanya seperti ujian akhir di sekolah? Hanya bedanya kita dituntut untuk menjadi yang pertama dalam seleksi ini kalau ingin lolos. Jadi, kalo materinya saja sudah ada, terus dianugerahi otak yang begitu cerdas, tapi kalah dengan ‘SUAP’ itu saya anggap orang yang pemalas, yang tak mau berusaha.

Kesimpulannya: kita hanya perlu keyakinan kuat, apakah kita yakin bisa lolos seleksi tanpa perlu pakai SUAP atau pasrah begitu saja ketika ‘tawaran-tawaran’ itu datang, apalagi dengan sistem seleksi CPNS sekarang. Tapi, kalo aku si kemarin ga begitu yakin bakalan lolos seleksi CPNS, bahkan ga mengira bakalan peringkat 2. Tapi, aku hanya yakin kalau aku ga lolos seleksi CPNS ini masih banyak peluang rezeki halal yang Allah berikan.

Senin, 16 Maret 2015

Kenapa Bukan Menikah?



Inspirasi nulis ini adalah perbincangan dengan beberapa orang tentang nadzar CPNS, mereka yang belum tahu mengira nadzarku adalah ‘menikah’ dan mereka yang tahu bertanya ‘kenapa bukan menikah saja?’
Bicara soal PNS di negeri ini masih dianggap pekerjaan yang luar biasa, hingga untuk meraihnya segala upaya dilakukan. Dari cara yang ‘sehat’ hingga cara ‘tidak sehat’ semua dilakukan agar bisa lolos seleksi CPNS. Banyak orang biasanya sebelum lolos seleksi bernadzar untuk melakukan kebaikan jika lolos CPNS nantinya. Dan berbicara soal nadzar lolos seleksi CPNS, akan banyak orang menjawab dengan berbagai jawaban yang berbeda. Ada banyak jawaban, ada yang bersifat materi dan ada pula yang bersifat non materi. Semua InsyaAllah baik!
Ada teman yang nadzar kalau keterima CPNS akan menikah segera. Dan dia membuktikan begitu pengumuman keterima, maka ia segera menikah. Lalu apa nadzarmu? Menikah jugakah?
Menurutku, mereka yang bernadzar untuk segera menikah adalah orang-orang yang telah pacaran lama, itu bagus daripada terus berlanjut dalam dosa pacaran yang terlalu lama. Sementara bagi kami yang bukan penganut paham pacaran, menikah memang sebuah keinginan, sedangkan jodoh harus diupayakan dengan terus memantaskan diri. So, kalau kami menjadikan ‘menikah’ sebagai nadzar bukan berarti itu lagi-lagi ‘MINTA’ sama Allah untuk mendapatkan rezeki jodoh? Belum juga bersyukur dengan rezeki CPNS, masak si sudah meminta lagi.
Sebelum test CPNS, bahkan jauh sebelum aku keterima CPNS aku memang memang mempunyai keinginan ini (terus apa bedanya dengan menikah?). Kenapa aku mencita-citakan setelah lulus CPNS? Bagi keluarga besar kami PNS masih sebuah pekerjaan yang dianggap hebat, dianggap ‘mapan’ secara finansial, dianggap telah mandiri, hingga untuk mendapatkannya diupayakan segala cara, termasuk SUAP! Membayar ratusan jutapun akan dilakukan untuk mendapatkannya. Dan aku adalah anak yang ‘sok pinter’ menolak dengan keras hal itu. Kenapa begitu? Aku bukan anak pintar, bukan siswa berprestasi, bukan mahasiswa dengan IPK cumlaude. Aku hanya seorang yang berprinsip jika aku mau aku bisa, segala upaya akan aku lakukan (ini si semua orang juga akan melakukan). Aku orang yang menolak dengan tegas ketika berkali-kali ditawari untuk keterima CPNS dengan SUAP, sampai yang nawari itu jengkel setengah mati. Ahhh…bodo amat dech, lagian emangnya mau bayari, bisa mati kutu ntar gajianku habis buat bayar hutang ‘suap’.
Orang tua tergantung bagaimana aku, kalau aku mau maka akan diupayakan dananya, kalau ga mau ya bagaimana lagi. Lagi-lagi kujawab TIDAK! Tidak akan pernah berkah harta yang diperoleh dengan cara yang haram. Hingga ketika aku mendapatkan ‘upah’ dari usaha kecil-kecilan tetap aku dianggap orang tua ‘belum mapan secara finansial klo belum jadi PNS’ dan itu masih membuat orang tua berpikir bagaimana agar aku jadi PNS! Sedih? Jelas! Tapi, aku tetap menolak dengan tegas “AKU TIDAK MAU JADI PNS DENGAN SUAP”. Dan sebelum aku jadi PNS maka pasti ‘keinginanku’ pasti akan sulit terpenuhi. Karena keinginanku (nadzarku) membutuhkan ‘kemampuan finansial’, walaupun kalo kita yakin ketika melakukannya sebelum kemampuan finansial kita baik justru Allah yang akan memapankan kemampuan finansial kita. Tapi, klo aku melakukannya saat kemarin belum lolos seleksi CPNS jelas ditolak sama orang tua.
Kembali pada nadzar, nadzarku ini memang nadzar yang sedikit aneh bagi masyarakat umumnya. Cita-cita ini semakin kuat ketika aku bersilaturmi ke tempat teman, Subhanallah mereka telah melakukannya terlebih dahulu. Dan sejak saat itu aku semakin ingin, akupun belajar banyak darinya. Jika aku mengajukan menikah pasti boleh saja, jika aku mau daftar umroh/ haji pun pasti diizinkan sama orang tua saat ini, karena dianggapnya aku sudah baik dalam kemampuan finasial. Tapi, sungguh belum itu yang ada dalam keinginanku terbesar saat ini pasca lulus seleksi CPNS. Apa itu berarti aku tidak ingin menikah? Sebagai wanita normal tentu rasa itu jelas ada, tapi belum dalam waktu dekat ini. Waktu itu pasca ujian CPNS selesai dan yakin bahwa akan lolos CPNS, aku memplaning bahwa aku akan menikah setelah prajabatan dan sebelum aku menulis tesis, pokoknya nulis tesis diupayakan sudah menikah. Tapi ternyata pengajuan izin belajar ke pihak BKD ditolak, jelas belum diizinkan CPNS baru untuk mengajukan izin belajar! Ditolak izin belajar ini benar-benar hal yang sungguh membuatku berduka. Aku harus merubah beberapa rencana dalam hidup minimal 2 tahun ke depan.
Ditolak pengajuan izin belajar BKD aku merenung “apakah ini teguran dari Allah agar aku konsentrasi memenuhi nadzarku? Rencana apa yang Allah siapkan dibalik duka ini”, ya nadzarku memang bukan hal yang gampang, menemukan sosok yang tepat benar-benar sulit. Telah kucari sebulan terakhir tak kunjung kutemukan, tanya sana sini ga juga kudapatkan sosok dengan 3 syarat utama yang kujadikan pedoman cukup sulit ternyata.
Segala upaya masih akan kulakukan hingga prajabatan CPNS kelak, tapi jika memang hingga prajabatan kelak tak bisa terpenuhi maka alternatif nadzar kedua yang akan kupakai. Semoga Allah mempermudahku menemukan sosok yang tepat itu. Aamiin..
Sosok yang tepat? Suami? Hahaha… (Kelak suatu hari akan tahu jawabannya). Mohon doanya agar dipermudah menemukan sosok yang tepat itu. 

Tapi, ngomong-ngomong soal nadzar nich, kemarin baca-baca ketemu hadits-hadits ini:

‘Nadzar sama sekali tidak bisa menolak sesuatu. Nadzar hanyalah dikeluarkan dari orang yang bakhil (pelit)’. (HR. Bukhari Muslim)

Janganlah bernadzar. Karena nadzar tidaklah bisa menolak takdir sedikit pun. Nadzar hanyalah dikeluarkan dari orang yang pelit. (HR. Muslim)

Bagaimana kawan? Menurut hadist tersebut, Rasulullah SAW melarang kita sebagai umatnya untuk tidak bernadzar. Mengapa? Karena nadzar tidak sedikitpun mengubah takdir. Jadi saat kita mempunyai hajat lalu bernadzar dan hajat tersebut dikabulkan oleh Allah, bukan berarti nadzar kita yang membuat Allah mengabulkan hajat kita, tapi memang karena usaha, do’a dan takdir kita yang menjadikannya nyata (dikabulkan).

Maka dari itu, mulai sekarang hindarilah bernadzar karena mengharapkan sesuatu (hajat) karena nadzar yang seperti itu hanya untuk orang pelit dan saya yakin pembaca sekalian bukanlah orang pelit. Astaughfirullah…

Lantas apakah nadzar itu akan tetap akan dilakukan? InsyaAllah iya, jika itu dianggap bukan nadzar maka itu adalah sebuah keinginan ‘kebaikan’ yang ingin kulakukan jauh  sebelum hal itu kujadikan nadzar. Semoga diberkahi Allah selalu… Semoga Allah memaafkan kebodohan ini.

Jumat, 27 Februari 2015

Barokah Doa Ibu



Suatu hari bapak di BKD itu bilang “Selamat…kalian semua orang2 cerdas!Hanya orang2 cerdas yang bisa keterima disini”. Cerdas? Rasanya aku tak secerdas yang mereka kira, aku hanya anak biasa saja, nilai sekolahku bukan yang terbaik di sekolah, IPK kuliah juga standar rata2 mahasiswa, jauh jika dikatakan aku cerdas. Hmm..

Lalu kenapa bisa aku keterima CPNS sedangkan banyak yang lebih cerdas daripada aku, IPK cumlaude, berprestasi dalam berbagai hal. Aku merasakan ini semua karena barokahnya doa ibu. Bagaimana tidak, aku sendiri merasakan aku tidak secerdas yang mereka kira?

Aku menyadari dengan sepenuh hati bahwa aku lolos CPNS karena berkah doa ibu. Apakah saat dulu mendaftar Jogja, Magelang, Purworejo tidak ada doa ibu? Ada, tapi saat itu hubungan kami cukup buruk, aku mendaftar keluar kota lebih karena rasa keegoisanku untuk segera pergi dari rumah dan punya penghasilan sendiri tanpa perlu bantuan orang tua lagi. Dan sekarang, aku sudah mulai nyaman hidup di rumah, aku telah memperbaiki hubunganku dengan orang tua. Walaupun kadang masih suka marah2 ya anggap wajar saja.

Ketika pilihan mendaftar CPNS, aku dan bapak memang sempat bentrok. Semua terjadi secara mendadak, ketika kemudian aku memutuskan untuk mendaftar di Boyolali jauh dari kesepakatan awal bahwa aku akan mendaftar di Kulon Progo. Tapi, dengan komunikasi akhirnya bapak mengikhlaskan.

Sempat terjadi bentrok membuat aku berjuang keras agar lolos CPNS tahun ini, tidur hingga larut malam, lebih tepatnya tertidur di depan laptop yang masih menyala, ngafalin berbagai materi CPNS yang kemungkinan keluar. Berusaha dan berdoa sekuat tenaga.

Kenapa sampai terjadi bentrok, karena aku menolak dengan tegas untuk melakukan suap CPNS! Terus ketika aku dan orang tua sepakat untuk mendaftar Kulon Progo, tiba2 aku melenceng jauh ke Boyolali (kota yang ntah dimana, ga pernah ada dalam khayalanku untuk tinggal disini).

Bayangkan saja, tarif CPNS untuk lulusan SMA 50jt, D2/D3 75jt, S1 125jt! Ahhhh….uang darimana itu? Uang dari ortu lah, kan ortu yang nawarin kalau mau! Tapi, selain secara agama rejeki dari hasil suap itu tidak berkah, hal lainnya yang membuat aku malas untuk menerima tawaran itu adalah karena profesi yang akan aku lalui adalah GURU, seorang pendidik. Lha klo lolos CPNS karena suap, bukankah aku akan menjadi guru yang paling bodoh? Selain itu, walaupun orang tua mengatakan bahwa uang untuk suap itu tak perlu dikembalikan, perasaanku tetap saja tak enak, orang tiap hari saja orang tua selalu mengatakan “kamu itu orang yang paling banyak menghabiskan uang di keluarga ini!”, bayangkan saja walaupun sejatinya orang tua ingin mengatakan “hiduplah hemat, jangan boros!”. Tapi ternyata yang keluar adalah kata2 bahwa aku penghabis uang terbanyak di keluarga ini. Terus, ntar kalo dah lolos CPNS kalau aku melakukan hal yang ‘aneh’ yang mengeluarkan banyak uang pasti dimarahin lagi “kuliah sudah menghabiskan jutaan, kerja juga menghabiskan ratusan juta” ahhhhh……rasanya tak cukup kuat mentalku mendengar kata2 itu.

Selain berusaha keras belajar, berdoa tak lupa kulakukan, mau tahu ga doanya gimana? Jujur banget “Ya Allah tunjukkan bukti kekuasaanMu bahwa aku bisa lolos CPNS tanpa uang!”. Kenapa aku berdoa seperti ini? Di keluarga besar kami rata2 semua yang masuk jadi PNS adalah dengan uang! Tak ada yang tidak pake uang. Jadi semuanya sudah tersugesti bahwa CPNS=Uang, Tak Ada Uang=Tak Akan Jadi PNS!

Seminggu sebelum test, aku ke Jogja (aku persiapan test di Jogja, aku memilih Jogja dikarenakan jaringan internet yang lebih baik daripada Purworejo, lebih mudah mencari materi CPNS). Sebelum berangkat ke Jogja, aku minta maaf ke orang tua, mohon doanya agar dimudahkan segala urusan. Tak lupa meminta kepada ibu untuk membantuku doa pas waktu aku ujian, aku minta beliau dzikir sebisanya untukku.

Ya…hari itu 16 Oktober 2014, aku berangkat ke Solo sendiri, sebelum berangkat kurimkan sms kepada orang tua untuk meminta restu mereka, sms kakung dan uti yang lagi di Mekkah mohon doanya. Aku berangkat sendiri, ketika sampai disana melihat peserta test banyak yang dianter keluarganya aku cuma gigit jari, tak apalah mereka dianter keluarga, aku juga datang dengan dianter “doa orang tua”.
 1 jam dari jadwal test, kami sudah masuk ruangan, sebelum masuk kukirimkan sms ke orang tua. Lagi…lagi…minta doa. Waktu mengerjakan ibuku benar2 berdzikir untukku, hingga aku kemudian menjerit dalam hati “Soal apaan ini, kenapa ga ada yang keluar yang kuhafalin!” Tapi, alhamdulillah soalnya mudah, walaupun tak satupun keluar soal yang kupelajari, soal2nya cukup bisa dinalar. Ketika tiba2 laptop yang kupakaipun nge-hang kemudian perlu dibetulkan beberapa orang semua bisa diselesaikan dengan baik. Hanya saja, ketika semua peserta test sudah selesai mengerjakan, sedangkan aku masih mempunyai kisaran waktu 20menit gara2 laptop yang sempat nge-hang itu, aku sudah sangat panik sekali, apalagi soal yang tersisa adalah soal2 yang cukup sulit (Nah, disini dikaitkan dengan doa ibu, ternyata ibu telah mengakhiri dzikirnya untukku karena dikiranya aku sudah selesai mengerjakan karena sudah lebih dari 2jam). Sungguh menit2 terakhir inilah aku merasakan sulit mengerjakan. Sudah panik, soal yang tersisa adalah soal sulit dan yang pasti tanpa doa ibu! Ditambah lagi aku adalah peserta test terakhir yang belum juga keluar, panitia yang tidak tahu bahwa laptopku sempat nge-hang tadi penasaran kenapa aku tak kunjung keluar, akhirnya semua panitia berkumpul di dekat mejaku. Ampunnnn…ini bikin tambah panik setengah mati.

Alhamdulillah selesai, pas mau lihat hasilnya, panik banget, ini panitia ngapain si pada kumpul disini, kan malu kalo nilainya jelek. Sempat hingga beberapa waktu aku tak juga mengklik nilainya. “ayo mbak buruan diklik itu skornya” kata seorang panitia. Ampun dech pak…kenapa bapak2 pada disini, aku kan malu kalo nilaiku jelek. Mau tak mau akhirnya kuklik juga, taraaaaaaaaaaa…… 386 (105 untuk TWK, 120 untuk TIU, 161 untuk TKP). Alhamdulillah, ini sungguh luar biasa. Dan ketika jurnal keluar Alhamdulillah peringkat 1. Inilah untuk pertama kali aku menjadi yang pertama (bahagia banget rasanya).

Dan lihatlah, bahwa semua itu karena barokah doa ibu, lihatlah betapa aku mendapatkan soal2 yang mudah, lihatlah ketika ibu berhenti berdoa lalu aku mengalami kesulitan mengerjakan soal. Ya…semua kesuksesan ini karena doa ibu, karena doa bapak, karena doa kakak, karena doa kakung dan uti di Mekkah dan semuanya yang tak bisa disebutkan satu per satu.

(Copas dari Google)